Foto : para profesor Baru di UB, jelang dikukuhkan dengan berbagai bidang ilmu
LOWOKWARU, MALANGJOS.com
Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk merancang model preventif Permata Mola, untuk
Mola Hidatidosa (MH) atau sering disebut Hamil Anggur. Sebuah komplikasi kehamilan langka yang menghantui perempuan.
Merupakan kelainan biologis kehamilan, menempatkannya pada spektrum sempit. Antara kondisi jinak dan keganasan, serta menunjukkan insiden dan risiko progresi, menjadi Penyakit Trofoblas Maligna yang bermakna.
Meski sudah banyak pasien yang terselamatkan, tapi kehamilan tersebut berisiko tinggi. Bahkan, bertransformasi menjadi keganasan. Meski telah ditangani dengan tata laksana klinis yang tepat.
Materi tersebut, menjadi tema
Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk, profesor dari Fakultas Kedokteran, saat pengukuhan sebagai Profesor baru di Universitas Brawijaya (UB).
“Permata Mola, sebuah model pencegahan, berbasis translasi biomedik. Menggabungkan epidemiologi nasional, karakteristik molekuler trofoblas, regulasi hormonal, serta peran nutrisi maternal pada kelompok risiko tinggi”, terang Tatit, jelang prosesi pengukuhan, yang akan dilaksanakan Rabu 11 Februari mendatang.
Menurut Tatit, hal tersebut, memiliki kekuatan pada orientasi preventif dan kontekstual. Namun terbatas pada cakupan kebutuhan validasi klinis dan integrasi sistem kesehatan. Menekankan intervensi sebelum kehamilan, sebagai tahap kunci menurunkan insiden MH, mencegah transformasinya.
Model Nutrisi Prakonsepsi dan gaya hidup sehat bagi perempuan,
perlu diperkuat. Melibatkan bidang kesehatan, pendidikan dan komunitas. Ini penting, memastikan pencegahan tidak hanya pada fase klinis, tetapi juga pada tahap prakonsepsi.
Sementara itu, pengukuhan yang sama, juga kepada Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN Eng. Ia memperkenalkan, Peternakan Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP). Merupakan Proteksi Protein dan Asam Amino Berbasis Konden Tanin untuk Peternakan Perah Tropis Berkelanjutan.
Ternak ruminansia, pada sapi dan kambing perah. Memiliki peran strategis, dalam penyediaan protein hewani. Melalui produksi susu, serta menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak rakyat
Produksi susu, ditentukan pengelolaan nutrisi, khususnya protein. Mengingat protein merupakan komponen pakan dengan biaya tertinggi, berkontribusi terhadap produksi kualitas susu.
“Secara biologis, ternak perah bergantung pada fungsi rumen. Sebagai pabrik biologis, mengonversi pakan berserat menjadi energi dan protein mikroba,” jelas Prof Masyhudi
Sedangkan Prof. Dr. Prija Djatmika, SH., M.S, Prof Prija dikukuhkan, sebagai profesor dalam Bidang Ilmu Hukum Pidana. Akan memberikan pemaparan materi tentang Clear-Asset Model. Pengembalian Aset Tindak Pidana Korupsi yang Berkepastian Hukum.
Mengedepankan pengembalian aset hasil korupsi sebagai inti keadilan. Memformulasikan, pengembalian aset yang sistematis, terpisah dari pemidanaan, serta mengakomodasi perampasan aset.
Tanpa harus menunggu putusan pidana dalam kondisi tertentu, menjamin kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia.
“Keterbatasan model ini, terletak pada ketergantungan terhadap kesiapan regulasi dan kapasitas kelembagaan,” jelas Prof Prija.
Sementara itu, Prof. Dr. rer.nat Tri Yudani Mardining Raras, M.App.Sc dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Biokimia Biomolekuler pada FK UB.
Menurut Prof. Tri Yudani, paradigma yang memandang protein rekombinan hanya sebagai “alat uji hipotesis” terlalu sempit. Namun, riset di Indonesia belum memiliki model kerja sistematis yang komprehensif mulai dari desain gen hingga validasi untuk merealisasikan potensi tersebut
“Untuk itu, mengembangkan protein rekombinan, bisa berperan ganda. Baik sebagai agen serodiagnosis, prototype vaksin ataupun protein terapeutik. Menggunakan Ag38 sebagai model protein rekombinan,’ jelasnya.
Prof. Dr. dr. Agustin Iskandar, MKes, Sp.PK (K) dikukuhkan dalam bidang Ilmu Patologi, melakukan penelitian penyakit infeksi, yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara berkembang.
Dalam praktik klinis, pasien diagnosis infeksi yang serupa, dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda. Mulai perbaikan klinis yang cepat, hingga perburukan yang berujung pada syok, kegagalan organ, atau kematian. (ER/MJ/Hms)












Komentar