oleh

Podcast Ngalam Hebak, Serius Lestarikan Osob Kiwalan

banner 300250

Foto : Kapolresta Malang Kota, Walikota serta sejarawan para akademisi seriusi Osob Kiwalan

KLOJEN, MALANGJOS.com
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol. Danang Setiyo PS mengajak sejumlah tokoh lintas sektor, membahas masa depan bahasa khas budaya Arek Malang. Salah satunya, melalui podcast Ngalam Hebak, di Kedai Kopi Rumah 1879, kawasan heritage Kauman, Kota Malang, Selasa malam 29 September 2026.

banner 336x280

Podcast bertajuk “Ngalam Hebak, dari Osob Kiwalan Menuju Masa Depan Malang Raya” itu, mempertemukan unsur kepolisian, pemerintah daerah, sejarawan, akademisi, dan pengamat keamanan. Digelar, setelah deklarasi gerakan Ngalam Hebak—Malang Kabeh di Kampung Celaket.

Selain Kombes Pol. Danang, hadir Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, Prof. Hermawan Sulistyo selaku sejarawan dan Penasihat Ahli Kapolri, Dr. Ahmad Imron Rozuli dari Universitas Brawijaya, serta Bambang Rukminto dari ISSES. Diskusi dipandu Dr. Wadji, Ketua Umum PISHI.

Kombes Pol. Danang mengatakan, pembahasan osob kiwalan, berangkat dari keprihatinan. Terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa khas Malang di tengah perubahan sosial dan budaya.

Menurutnya, osob kiwalan tidak semata-mata berkaitan dengan teknik membalik susunan kata, namun menjadi bagian dari sejarah pergaulan dan solidaritas masyarakat Malang.

“Osob kiwalan bukan sekadar membalik kata. Di dalamnya ada sejarah dan solidaritas masyarakat Malang,” terang Danang, Rabu 29 September 2026.

Karena itu, menurut dia, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mendokumentasikan kosakata. Diperlukan ruang agar bahasa tersebut tetap digunakan dan dipahami generasi muda.

Melalui podcast Ngalam Hebak, Danang ingin membuka ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif.

“Tujuannya bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memastikan identitas itu tetap hidup. Setelah deklarasi hingga adanya Podcast ini, pekerjaan sebenarnya baru dimulai” lanjut Danang.

Sementara Prof. Hermawan Sulistyo menilai, penguatan identitas lokal dapat menjadi modal sosial. Namun jangan sampai berubah menjadi eksklusivisme.

“Identitas budaya, menurutnya, harus menjadi sarana memperkuat kebersamaan. Bukan menciptakan batas antara kelompok masyarakat.” terang Prof Herman.

Sementara itu, Dr. Imron selaku Akademisi Universitas Brawijaya mengatakan, revitalisasi osob kiwalan, perlu menyesuaikan perkembangan zaman. Harus mendapat ruang baru agar generasi muda merasa memiliki.

Menurut Walikota Malang Wahyu Hidayat, tak hanya dalam bentuk dokumentasi dan kamus, dapat menjadi salah satu instrument yang berlanjut kepada generasi berikutnya.

“Hadirnya Podcast Jadi Ruang Kolaborasi. Menjadi bagian dari langkah lanjutan setelah deklarasi Ngalam Hebak (Malang Kabeh). Untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas, sekaligus membuka percakapan mengenai identitas Kota Malang.” ungkap Wahyu. (ER/MJ/Hms)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *