oleh

BPDP dan LPEP FEB Unair, Beri  Pakan Ternak Murah dari Limbah r

banner 300250

Foto : pelaksanan workshop dan penjelasan inovasi pakan ternak murah

KARANGPLOSO, MALANGJOS.com
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga melakukan aksi nyata
Program Prioritas BPDP.

banner 336x280

Mengambil tema “Peningkatan Nilai Tambah Limbah Kelapa Sawit melalui Inovasi Pakan Ternak Berbasis Ekonomi Sirkular.” Dilaksanakan di Malang Raya, Jawa Timur, 20–22 Oktober 2026.
Diikuti peternak serta pelaku UMKM di bidang pakan ternak, peternakan, dan pengolahan hasil perkebunan.

Ketua Pelaksana, Akhmad Jayadi, SE., M.Ec.Dev, menjelaskan, workshop dirancang agar berlanjut menjadi aksi nyata. Peternak dan pelaku UMKM dibekali pemahaman potensi limbah sawit.

keterampilan mengolahnya menjadi pakan, pendampingan legalitas usaha, serta kesempatan terhubung dengan perbankan melalui business matching.

“Kami ingin setiap peserta pulang dengan hasil nyata, mulai dari kemampuan membuat pakan dari limbah sawit, legalitas usaha seperti NIB, proposal pembiayaan yang siap diajukan, hingga rencana aksi untuk mengembangkan usahanya,” jelas Akhmad Jayadi, Selasa 20 Oktober 2026.

Ia menambahkan, agar kegiatan ini menjadi wadah bertemunya peternak, UMKM, akademisi, pemerintah, perusahaan sawit, dan perbankan di Malang Raya. Apalagi, pakan ternak mahal, sementara limbah aawit melimpah.

“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” terang Prof. Dyah Wulan Sari.

Perlu juga, belajar dari peternak yang sudah berhasil. Dengan memanfaatkan solid sawit yang difermentasi dan dicampur dengan hijauan serta konsentrat. Hasilnya, biaya pakan turun 30–40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu.

“Bagi peternak di Malang Raya, kuncinya adalah membangun kemitraan pasokan dan memastikan kualitas pengolahan. Dengan begitu, ketergantungan pada pakan komersial bisa berkurang dan usaha lebih efisien,” jelasnya.

Salah satu studi kasus, adalah mengangkat pengalaman Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Dalam uji coba 30 hari, beberapa kambing alami kenaikan bobot 3–4 kilogram. (ER/MJ/Hms)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *