Foto : para pemeran film ‘Piye To Kih’ usai nobar bersama para penonton
LOWOKWARU, MALANGJOS.com
Ekspektasi atau harapan yang tinggi, bisa diwujudkan dengan kemauan kuat dan keras. Tidak boleh putus asa, dan tidak mudah menyerah. Dengan kesiapan dan memantaskan diri, bisa menjadi modal merealisasikan imaginasi dan cita cita. Mewujudkan mimpi dengan penuh motivasi.
Hal itu kiranya, makna pesan yang disampaikan dalam cerita film berjudul “Piye To Kih” di Cyber Mall, Malang. Film drama komedi bernuansa Jawa, dirasa cukup segar. Dengan kombinasi horor, serta drama, mampu membawa penonton sekolah olah terbawa dalam cerita.
Roadshow di Malang, turut dihadiri sejumlah pemain untuk menyapa dan bertemu langsung para penonton. Mulai dari Dara Sarasvati, Devina Aurel, Eko Dudung, Faisal Agung, Heri Chandra, hingga Yono Bakrie. Kehadiran para pemeran, disambut antusias pecinta film yang mengikuti nonton bareng (nobar).
Dalam sesi diskusi, para pemain berbagi pengalaman selama menjalani proses produksi film. Salah satunya Heri Chandra, mengaku harus melakukan sejumlah penyesuaian. Karena pertama kali terlibat dalam produksi film layar lebar.
“Cukup berbeda dibandingkan aktivitasnya sebagai kreator konten komedi di YouTube. Produksi film memiliki skala kru, yang jauh lebih besar. Membutuhkan adaptasi dan membangun komunikasi dengan banyak orang. kalau di YouTube, krunya hanya 3-5, kalau film bisa ratusan. Ya membaur, ajak ngobrol, sok kenal lah biar relax,” terangnya, ditemui usai nobar, Rabu 04 November 2026.
Sementara itu, Dara Sarasvati mengaku lega dapat memerankan karakter Sukma dengan baik. Dalam film keduanya ini, Dara mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan aktingnya melalui karakter yang memiliki tantangan tersendiri.
Ia menjelaskan, perbedaan paling besar terletak pada karakter Sukma yang merupakan entitas dari alam berbeda. Hal tersebut membuatnya harus mempelajari tata gerak dan ekspresi yang berbeda dari karakter manusia pada umumnya.
“Secara karakter sama sih dengan sebelumnya. Bedanya kalau dulu itu memerankan orang, sekarang entitas. Pasti ada tantangan dalam tata gerak manusia dan hantu. Itu yang jadi tantangan paling besar sejauh ini. Butuh memperbanyak referensi supaya visualisasi karakternya tersampaikan,” jelasnya.
Sutradara Sutradara Ito Mavin mengungkapkan, keterlibatan Woko Channel, menjadi upaya memberikan persembahan istimewa kepada para penggemarnya di Indonesia.
Tidak hanya ditujukan bagi komunitas penggemar Woko Channel. Produksi ini juga menjadi langkah untuk memperluas jangkauan karya mereka ke industri perfilman nasional.
“Kita mengajak Woko Channel terlibat. Sebagai hadiah istimewa untuk para fansnya. Kita adakan Home Premiere di Kediri sebagai awal untuk Woko Channel ke industri yang lebih luas. Sehingga pesan dari film ini sampai,” paparnya.
Pengalaman bermain dalam film komedi, menjadi tantangan tersendiri bagi Gabriella Desta. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru sekaligus kesempatan, mengembangkan kemampuan aktingnya.
“Di sini aku ketemu sama keluarga baru. Woko dan Dara juga. Dari judulnya ada ke Jawa-Jawa-nya, jadi ya seru dan menantang,” pungkasnya.
Sejumlah kota yang menjadi tujuan roadshow, meliputi Semarang, Yogyakarta, Magelang, Solo, Sragen, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Blitar, dan Tulungagung. (ER/MJ/Hms)










Komentar