Foto :Prof. Ir. Ika Noer Syamsiana, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., dengan kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi, saat berorasi
LOWOKWARU, MALANGJOS.com
Salah satu profesor terbaru yang dikukuhkan Politeknik Negeri Malang (Polinema) Prof. Ir. Ika Noer Syamsiana, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., dengan kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi.
Kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi dengan pengembangan Knowledge Growing System (KGS). Sebuah sistem kognitif, berbasis Artificial Intelligence (AI). Dirancang untuk terus menumbuhkan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan.
Sistem tersebut, mendorong teknologi otomasi. Agar tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga mempelajari pengetahuan baru secara berkelanjutan. Sehingga dapat beradaptasi dan menyelesaikan persoalan secara lebih akurat.
“Seluruh otomasi dituntut untuk bisa menumbuhkan pengetahuan yang baru. Sehingga bisa adaptif, akurat dan bisa menyelesaikan masalah,” terang Prof Ika, saat pengukuhan di Polinema, Kamis 10 September 2026
Kata dia, KGS bekerja dengan konsep pengetahuan yang terus berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Sistem tersebut mempelajari informasi baru dan menggunakannya, menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam penyelesaian masalah.
“KGS adalah Knowledge Growing System, jadi sistem yang terus menerus berpengetahuan tumbuh dengan interaksi terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Salah satu penerapan KGS, dalam penanganan pandemi COVID-19 pada 2020. Saat itu, Ika terlibat dalam TFRIC-19 bentukan BPPT dan menggunakan KGS, untuk membantu melakukan prediksi COVID-19 berdasarkan gejala awal.
“Pernah berkontribusi dalam kepakaran di bidang Teknologi Rekayasa dan Otomasi dalam TFRIC-19 bentukan BPPT. Melakukan prediksi COVID, dari gejala awal menggunakan Knowledge Growing System. Sebuah sistem kognitif, berbasis Artificial Intelligent yang kebetulan berkembang di Indonesia,” lanjut Ika.
Pengembangan KGS, tidak berhenti pada prediksi COVID-19. Dalam penelitian lainnya, Ika mengembangkan sistem mitigasi terintegrasi untuk memprediksi umur transformator atau trafo.
Memanfaatkan sejumlah parameter, kondisi trafo. Kemudian memperkirakan umur dan masa pakai unit. Hasil prediksi itu, dapat membantu penyedia layanan. Menentukan waktu pemeliharaan, perbaikan, hingga penggantian trafo.
“Dalam penelitian saya, memprediksi umur trafo.
Dengan parameter tertentu, kita bisa mendeteksi umur dari trafo tersebut. Data tersebut kami masukkan ke KGS, sehingga bisa menentukan umur dan masa pakainya ,” tambahnya.
Kemampuan prediksi, dapat menjadi bagian dari mitigasi bagi penyedia layanan. Dengan mengetahui kondisi dan perkiraan masa pakai trafo, keputusan pemeliharaan maupun penggantian dapat dilakukan secara lebih terukur.
Sementara itu,
Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo menjelaskan, para guru besar diharapkan menjadi agen perubahan. Sekaligus ujung tombak dalam meningkatkan mutu pendidikan di Polinema.
“Kita harapkan ada peran-peran para guru besar ke depan. Semakin bisa mengangkat mutu pendidikan di kampus. Para Guru Besar ini kepakarannya tidak perlu diragukan lagi. Dapat menjadi leader untuk yang lebih muda jadi semakin berkualitas,” jelas Supriatna Dirut Polinema. (ER/MJ/Hms)










Komentar